Antara
Aku dan Pantai
Oleh
: Siti Rahmatillah
Hembusan angin pagi bersama tetesan
embun membasahi kakiku yang tak beralas. Kenapa hanya setetes embun yang
diharapkan jika air hujan dapat membasahi seluruh badan. Bukan itu yang
diharapkan, bukan itu yang diimpikan. Tapi apakah masih pantas diri diterima
dalam keadaan yang kita anggap baik. Sesuatu yang kita lakukan tak membatasi
diri untuk beranjak kesisi baik. Tanyakan pada hatimu, siapakah yag sanggup
untuk menuntunmu ? Tuhanmu, Allah .. akan selalu ada untukmu.
Tak hanya sekali aku ketempat ini,
karena rumahku dipesisir pantai. Pantai sebagai tempatku untuk megadukan keluh
kesahku disetiap waktu. Sebuah tempat dimana membuatku merasa nyaman tanpa
beban. Pasir putih menyelimuti kakiku yang tak memakai alas kaki. Tak terasa
senja sudah menyapaku dari arah barat dan menyuruhku untuk segera pulang. Aku
berlari menuju rumah karena takut pulang terlalu malam.
Disuatu malam, aku dan ibuku sedang
duduk brdua di ruang tamu.
“Ibu.. Lya pengen kuliah tahun depan”
curhatku pada Ibuku. “Kuliah ? Ibu tidak ada biaya untuk menyekolahkanmu lagi Nak
sampai jadi sarjana, makan nasi sama sambel terasi aja itu sudah Alhamdulillah
buat kita Nak. Belum lagi adikmu yang tahun depan akan lanjut SMA” jawab ibuku
dengan sedikit bimbang. “tapi Bu.. Lya pengen. Lya janji, Lya bakalan cari beasiswa biar Lya
bisa kuliah gratis Bu. Jadi Ibu gak perlu khawatir masalah biaya” ujarku merayu
Ibuku agar mengijinkanku kuliah. “yasudah Nak, Ibu hanya bisa berdoa sama Allah
agar kamu bisa sukses nantinya” kata ibuku sambil memelukku.
Suasananya masih sama seperti yang
sering ku datangi masa itu,kumainkan kakiku bersama pasir putih pinggir pantai
dan kubasahi kakiku dengan ombak kecil
yang berada di bibir pantai. “Aawww..” teriakku sambil mengangkat kaki kananku
yang berdarah seketika. Rasanya sakit, dan darah semakin banyak yang keluar
dari telapak kakiku. Sesegera mungkin aku basuh lukaku dengan air pantai
meskipun perih kakiku saat itu. Tak lama kemudian ada seorang lelaki yang
membantuku membersihkan lukaku tanpa basa basi. Dia membalutkan kain miliknya
dikakiku. Aku terdiam tanpa sadar kakiku sudah tak mengeluarkan darah lagi. Lalu
dia menggertakku “hei, kakimu luka, sudah aku balut pakai sapu tangan milikku”
kata lelaki itu, “loh iya, makasih” jawabku kaku, lelaki itu sepertinya dia
sebaya denganku. “masih bisa jalan ?” Tanya dia. “bisa kok” jawabku sambil
berjalan dengan satu kaki (lompat-lompat). “sini aku bantu” dia membantuku kesebuah
tempat teduh dibawah pohon pinggir pantai. “istirahat disini dulu ya” ujarnya
sambil membantuku untuk duduk.
“rumahmu dimana ?” Tanya dia sambil
menatapku. “disana kok deket (sambil menunjuk kearah rumahku”, jawabku kaku.
“kamu emang sering ke pantai apa
gimana ? sampai kaki kamu luka gitu kena karang, tapi kamu gapapa?”, Tanya dia. “iya aku gapapa kok” meyakinkannya,
“makasih yaa udah bantuin aku” sahutku.
“iya iya, sama-sama. Namaku Aldi, namamu
siapa ?”, Tanya dia sambil menjulurkan tangannya padaku. “Lya”, jawabku sambil
menyalami tangannya. “aku kok gak pernah keliatan kamu ya ?, pendatang barukah
? “ , tanyaku dengan rasa keingintahuanku. “ooh enggak Ly, aku lagi ada
penelitian di daerah ini untuk melengkapi tugas dari dosen” ujarnya.
“Oooh kakak udah kuliah?”, sontak
aku langsung memanggilnya kakak karena dia sudah kuliah.
“masih sekolah kamu ?” Tanya lagi. “iya
kak, aku masih SMA kelas 3” jawabku kepadanya.
“mau kuliah tahun depan ?” Tanya
dia kembali.
“pengen banget kak, tapi ibuku tak
menyetujui karena kendala biaya. kak aku mau pulang sudah malam soalnya”,
kataku sambil berusaha berdiri sendiri karena ingin segera sampai dirumah.
“Ehh sebentar aku bantu kamu sampai
rumah”, ujarnya sambil membantuku berdiri dan berjalan sampai didepan rumah.
“Assalamualaikum.. Ibu.. Lya
pulang”, kataku dengan suara rendah, dan terasa badanku lemas, agak meriang.
“Waalaikumsalam, Astaghfirullah
kamu kenapa Nak.. ??”, ibuku langsung menghampiriku dan menarikku dari kak
Aldi.
“kamu apakan anak saya ?” kata Ibuku sambil
membentak kak Aldi.
“nggak Buk, Lya gapapa kok. Justru
Kak Aldi yang udah bantuin Lya di pantai tadi” jawabku lemas.
“iya buk benar apa kata Lya saya hanya
membantunya tadi sebab kakinya terluka karena menginjak karang”, tegas kak Aldi. “Yasudah buk saya pamit, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”, kata Ibuku.
“cepet sembuh ya Ly” kata kak Aldi
“Waalaikumsalam, terimakasih kak
Aldi”, kataku.
Kemudian dia berjalan pulang.
“ayo, ibu bersihkan lukamu” kata
ibuku sambil membawaku kekamar.
Angin malam terasa jelas kurasakan
hingga kedekat tulang. Tubuhku melemah, dan mata sulit untukku buka. Aku tak tidur aku hanya terbaring lemah diatas
kasur. Ibuku yang mengetahui keadaanku segera membawaku ke klinik dekat rumah
bersama dengan adikku. Ibuku menangis melihat keadaanku, aku tak dapat
melihatnya, tapi aku bisa mendengar desah suara tangisnya. Adikku tak berhenti
memegangi tanganku sesekali air matanya jatuh dilenganku. Kasih sayang mereka
sangat terasa saat itu. Aku merasakan tak bisa bila jauh dari mereka, dan tak
sanggup jika meninggalkan mereka berdua.
Beberapa jam kemudian, aku dapat
membuka mataku kembali setelah lama tertidur. Aku melihat Ibuku sedang tidur
disampingku dalam keadaan duduk. Adikku tidur di lantai samping ranjang tempatku
berbaring beralaskan tikar. Tak terasa air mataku jatuh kembali dan ibuku
terbangun karena aku berusaha menggerakkan kakiku.
“Alhamdulillah,
sudah sadar kamu nak?”, sahut Ibuku terbangun dari tidurnya.
“iya
Buk, kaki kananku kenapa Buuk? Sulit sekali untuk aku gerakkan”, tanyaku pada Ibu
dengan cemas sambil membuka selimut yang menutupi kakiku. Kakiku diperban dan
aku sulit untuk menggerakkannya dan sakit sekali.
“Kata dokter kakimu terkena bakteri yang menempel di
terumbu karang itu, dan menyebabkan kakimu lumpuh untuk sementara, sabar ya Nak.
Ibuk yakin kamu pasti bakal sembuh kok” kata ibuku sambil menangis memeluk
tubuhku
“lumpuh buk ? gak mungkin, Lya masih mau kuliah dan
bekerja buat banggain Ibukk” tangisku sambil memeluk Ibuku dan melihat keadaan
kakiku.
*Satu bulan kemudian . .*
Kurindukan suasana pantai dengan ombaknya,
aku dibantu dengan dua tongkat saat itu. Kakiku tak bisa main air di pinggir
pantai lagi, aku hanya bisa duduk dipinggir pantai tak terasa sudah minggu
depan aku ujian sekolah dan aku bakal kuliah. Harapanku aku bisa lolos seleksi
beasiswa perguruan tinggi nantinya. Tiba-tiba ibuku duduk disebelahku saat aku
berada di pinggir pantai,
“Ibuuk !..” sontakku kaget.
“kamu pengen kuliah Nak ?” Tanya ibuku
“iya buuk, Lya pengen kuliah” jawabku semangat
“Ibuk bakal ijinin kamu buat kuliah tapi harus pakai
hijab sebagai penutup kepala dan pelindung buat kamu saat kamu jauh dari Ibuk”
kata Ibuku
“iya bukk, Lya siap pakai hijab untuk Ibukk” jawabku
gembira dengan mata berkaca-kaca
“jangan untuk Ibuk nak, tapi untuk Allah. Karena
pakai hijab itu kewajiban buat perempuan muslimah seperti kamu dan Ibu. Selain
itu, kamu jangan pernah lupa buat sholat dan mengaji agar diberikan kemudahan
atas segala urusan kamu sama Allah” ujar Ibu menasihatiku
“iyaa Buk, Lya janji bakalan bikin Ibuk bangga dan
pakai hijab mulai dari hari ini sini Ibu aku pakai jilbabnya” kataku sambil memakai
kerudung yang ibu berikan padaku.
“kamu terlihat lebih cantik dengan jilbab ini Nak..”
kata Ibu merayuku.
“nak siapa dulu ? Ibukk .. ”kataku bersemangat
Semangatku makin membara disetiap
harinya, persiapan ujian makin matang. Bismillah ini awal dari kesuksesanku, sepulang
sekolah aku selalu dibantu oleh Ibu untuk belajar berjalan tanpa tongkat di
pinggir pantai. Sesekali aku terjatuh karena kaki belum kuat untuk menopang
tubuh. Tapi itu tak menjadikan alasan bagiku untuk berhenti belajar berjalan
kembali. Karena aku yakin usaha tidak
akan menghianati hasil.
Ini adalah hari pertama aku ujian, aku
meminta restu kepada Ibuku agar dimudahkan pada saat aku mengerjakan soal-soal
disekolah nanti. Alhasil setelah pengumuman kelulusan, aku lulus dengan nilai
terbaik Alhamdulillah puji syukur kepada Allah, selain itu aku juga lolos di
perguruan tinggi dengan beasiswa. Tak tanggung-tanggung kebahagiaanku hari itu
di sekolah tanpa aku sadari aku bisa melompat dengan kedua kakiku yang semula
masih sulit untuk berjalan. Masyaallah, Maha Suci Allah langsung aku sujud
syukur tanpa hiraukan teman-teman disekitarku. Tak terasa air mata menetes
dipipiku. Ini air mata bahagia, tak sabar aku ingin segera pulang dan
memberikan kabar bahagia ini kepada Ibuku.
Sampai dirumah aku berlari menghampiri Ibuku
yang sedang berada diteras rumah. Ibu melihatku dari arah kejauhan dengan
ekspresi heran dan tercengang karena aku telah dapat berjalan dan berlari.
“Ibu, aku lulus Bu, aku lolos kuliah gratis dan,
kakiku juga sudah sembuh Bu..” kataku pada Ibuku
“Alhamdulillah Nakk, rejekimu memang besar sekali.
Ibu bangga padamu Nak” jawab ibuku dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap
kepalaku lalu memelukku.
“Lya jadi kuliah kan Bukk ? Lya janji ga bakal
kecewain Ibuk dan pasti Lya bakal bikin Ibuk bangga dan kerudung ini akan tetap
menemani Lya dalam keadaan apapun ” ujarku semangat meyakinkan Ibu.
Ibuku mengangguk dan tersenyum.
*dua bulan kemudian*
Hari pertama kuliah, aku merasakan hal
yang beda dengan masa SMA dulu, baik dari teman dan lingkungannya. Tak jauh
dari pandangan mata aku melihat seorang laki-laki yang wajahnya tak asing bagiku.
Wajah samar-samar mirip Kak Aldy yang membantuku di pantai sebelum aku lumpuh 4
bulan yang lalu. Tak lama lelaki itu juga menatapku dan ternyata dia mendekat
padaku dan menyapaku.
“Assalamualaikum,
Lya ya ?” Tanya dia tanpa basa basi. “loh
iya benar, siapa ya ?” tanyaku kaget. “masih inget aku gak ?” kata dia
menggodaku. “Kak Aldy ? “ dia mengangguk. “sudah aku duga, ternyata benar Kak
Aldy dan Kakak kuliah disini juga ?” tanyaku penasaran. “Iya dek, aku kulih
disini, gak nyangka kita satu kampus ternyata. “gimana kaki kamu yang kena
karang tempo lalu?” Tanya kak Aldy. Langsung saja aku cerita bagaimana
keadaanku waktu itu kepada Kak Aldy.
Banyak
hal yang aku ceritakan padanya semenjak kita terakhir ketemu hingga hari ini.
Keberadaan Kak Aldy di kampus memberikan warna tersendiri di keseharian dunia
kampusku. Kebaikan hati dan ketulusannya padaku membuat aku merasa nyaman saat aku
bersamanya. Hingga akhirnya Kak Aldy lulus kuliah dan sukses bekerja di salah
satu perusahaan swasta. Beberapa tahun kemudian, Kak Aldy melamarku setelah aku
wisuda. Sapu tangan milik Kak Aldy masih aku simpan rapi sebagai barang pertama
yang dia berikan padaku.
Hidup memang sulit jika hanya
diangan-angan saja. Jalani dengan ikhlas dan penuh semangat. Karena Yang Maha
Mengetahui takkan membiarkan hambanya kehilangan kebahagiannya.
*SELESAI*