Minggu, 05 November 2017

Antara Aku dan Pantai
Oleh : Siti Rahmatillah           
                                                     
            Hembusan angin pagi bersama tetesan embun membasahi kakiku yang tak beralas. Kenapa hanya setetes embun yang diharapkan jika air hujan dapat membasahi seluruh badan. Bukan itu yang diharapkan, bukan itu yang diimpikan. Tapi apakah masih pantas diri diterima dalam keadaan yang kita anggap baik. Sesuatu yang kita lakukan tak membatasi diri untuk beranjak kesisi baik. Tanyakan pada hatimu, siapakah yag sanggup untuk menuntunmu ? Tuhanmu, Allah .. akan selalu ada untukmu.
            Tak hanya sekali aku ketempat ini, karena rumahku dipesisir pantai. Pantai sebagai tempatku untuk megadukan keluh kesahku disetiap waktu. Sebuah tempat dimana membuatku merasa nyaman tanpa beban. Pasir putih menyelimuti kakiku yang tak memakai alas kaki. Tak terasa senja sudah menyapaku dari arah barat dan menyuruhku untuk segera pulang. Aku berlari menuju rumah karena takut pulang terlalu malam.
            Disuatu malam, aku dan ibuku sedang duduk brdua di ruang tamu.
“Ibu.. Lya pengen kuliah tahun depan” curhatku pada Ibuku. “Kuliah ? Ibu tidak ada biaya untuk menyekolahkanmu lagi Nak sampai jadi sarjana, makan nasi sama sambel terasi aja itu sudah Alhamdulillah buat kita Nak. Belum lagi adikmu yang tahun depan akan lanjut SMA” jawab ibuku dengan sedikit bimbang. “tapi Bu.. Lya pengen.  Lya janji, Lya bakalan cari beasiswa biar Lya bisa kuliah gratis Bu. Jadi Ibu gak perlu khawatir masalah biaya” ujarku merayu Ibuku agar mengijinkanku kuliah. “yasudah Nak, Ibu hanya bisa berdoa sama Allah agar kamu bisa sukses nantinya” kata ibuku sambil memelukku.
Suasananya masih sama seperti yang sering ku datangi masa itu,kumainkan kakiku bersama pasir putih pinggir pantai dan  kubasahi kakiku dengan ombak kecil yang berada di bibir pantai. “Aawww..” teriakku sambil mengangkat kaki kananku yang berdarah seketika. Rasanya sakit, dan darah semakin banyak yang keluar dari telapak kakiku. Sesegera mungkin aku basuh lukaku dengan air pantai meskipun perih kakiku saat itu. Tak lama kemudian ada seorang lelaki yang membantuku membersihkan lukaku tanpa basa basi. Dia membalutkan kain miliknya dikakiku. Aku terdiam tanpa sadar kakiku sudah tak mengeluarkan darah lagi. Lalu dia menggertakku “hei, kakimu luka, sudah aku balut pakai sapu tangan milikku” kata lelaki itu, “loh iya, makasih” jawabku kaku, lelaki itu sepertinya dia sebaya denganku. “masih bisa jalan ?” Tanya dia. “bisa kok” jawabku sambil berjalan dengan satu kaki (lompat-lompat). “sini aku bantu” dia membantuku kesebuah tempat teduh dibawah pohon pinggir pantai. “istirahat disini dulu ya” ujarnya sambil membantuku untuk duduk.
“rumahmu dimana ?” Tanya dia sambil menatapku. “disana kok deket (sambil menunjuk kearah rumahku”, jawabku kaku.
“kamu emang sering ke pantai apa gimana ? sampai kaki kamu luka gitu kena karang, tapi kamu gapapa?”,  Tanya dia. “iya aku gapapa kok” meyakinkannya, “makasih  yaa udah bantuin aku” sahutku.
“iya iya, sama-sama. Namaku Aldi, namamu siapa ?”, Tanya dia sambil menjulurkan tangannya padaku. “Lya”, jawabku sambil menyalami tangannya. “aku kok gak pernah keliatan kamu ya ?, pendatang barukah ? “ , tanyaku dengan rasa keingintahuanku. “ooh enggak Ly, aku lagi ada penelitian di daerah ini untuk melengkapi tugas dari dosen” ujarnya.
“Oooh kakak udah kuliah?”, sontak aku langsung memanggilnya kakak karena dia sudah kuliah.
“masih sekolah kamu ?” Tanya lagi. “iya kak, aku masih SMA kelas 3” jawabku kepadanya.
“mau kuliah tahun depan ?” Tanya dia kembali.
“pengen banget kak, tapi ibuku tak menyetujui karena kendala biaya. kak aku mau pulang sudah malam soalnya”, kataku sambil berusaha berdiri sendiri karena ingin segera sampai dirumah.
“Ehh sebentar aku bantu kamu sampai rumah”, ujarnya sambil membantuku berdiri dan berjalan sampai didepan rumah.
“Assalamualaikum.. Ibu.. Lya pulang”, kataku dengan suara rendah, dan terasa badanku lemas, agak meriang.
“Waalaikumsalam, Astaghfirullah kamu kenapa Nak.. ??”, ibuku langsung menghampiriku dan menarikku dari kak Aldi.
 “kamu apakan anak saya ?” kata Ibuku sambil membentak kak Aldi.
“nggak Buk, Lya gapapa kok. Justru Kak Aldi yang udah bantuin Lya di pantai tadi” jawabku lemas.
“iya buk benar apa kata Lya saya hanya membantunya tadi sebab kakinya terluka karena menginjak karang”,  tegas kak Aldi. “Yasudah buk saya pamit, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”, kata Ibuku.
“cepet sembuh ya Ly” kata kak Aldi
“Waalaikumsalam, terimakasih kak Aldi”, kataku.
Kemudian dia berjalan pulang.
“ayo, ibu bersihkan lukamu” kata ibuku sambil membawaku kekamar.
            Angin malam terasa jelas kurasakan hingga kedekat tulang. Tubuhku melemah, dan mata sulit untukku buka.  Aku tak tidur aku hanya terbaring lemah diatas kasur. Ibuku yang mengetahui keadaanku segera membawaku ke klinik dekat rumah bersama dengan adikku. Ibuku menangis melihat keadaanku, aku tak dapat melihatnya, tapi aku bisa mendengar desah suara tangisnya. Adikku tak berhenti memegangi tanganku sesekali air matanya jatuh dilenganku. Kasih sayang mereka sangat terasa saat itu. Aku merasakan tak bisa bila jauh dari mereka, dan tak sanggup jika meninggalkan mereka berdua.
            Beberapa jam kemudian, aku dapat membuka mataku kembali setelah lama tertidur. Aku melihat Ibuku sedang tidur disampingku dalam keadaan duduk. Adikku tidur di lantai samping ranjang tempatku berbaring beralaskan tikar. Tak terasa air mataku jatuh kembali dan ibuku terbangun karena aku berusaha menggerakkan kakiku.
“Alhamdulillah, sudah sadar kamu nak?”, sahut Ibuku terbangun dari tidurnya.
“iya Buk, kaki kananku kenapa Buuk? Sulit sekali untuk aku gerakkan”, tanyaku pada Ibu dengan cemas sambil membuka selimut yang menutupi kakiku. Kakiku diperban dan aku sulit untuk menggerakkannya dan sakit sekali.
“Kata dokter kakimu terkena bakteri yang menempel di terumbu karang itu, dan menyebabkan kakimu lumpuh untuk sementara, sabar ya Nak. Ibuk yakin kamu pasti bakal sembuh kok” kata ibuku sambil menangis memeluk tubuhku
“lumpuh buk ? gak mungkin, Lya masih mau kuliah dan bekerja buat banggain Ibukk” tangisku sambil memeluk Ibuku dan melihat keadaan kakiku.

*Satu bulan kemudian . .*
Kurindukan suasana pantai dengan ombaknya, aku dibantu dengan dua tongkat saat itu. Kakiku tak bisa main air di pinggir pantai lagi, aku hanya bisa duduk dipinggir pantai tak terasa sudah minggu depan aku ujian sekolah dan aku bakal kuliah. Harapanku aku bisa lolos seleksi beasiswa perguruan tinggi nantinya. Tiba-tiba ibuku duduk disebelahku saat aku berada di pinggir pantai,
“Ibuuk !..” sontakku kaget.
“kamu pengen kuliah Nak ?” Tanya ibuku
“iya buuk, Lya pengen kuliah” jawabku semangat
“Ibuk bakal ijinin kamu buat kuliah tapi harus pakai hijab sebagai penutup kepala dan pelindung buat kamu saat kamu jauh dari Ibuk” kata Ibuku
“iya bukk, Lya siap pakai hijab untuk Ibukk” jawabku gembira dengan mata berkaca-kaca
“jangan untuk Ibuk nak, tapi untuk Allah. Karena pakai hijab itu kewajiban buat perempuan muslimah seperti kamu dan Ibu. Selain itu, kamu jangan pernah lupa buat sholat dan mengaji agar diberikan kemudahan atas segala urusan kamu sama Allah” ujar Ibu menasihatiku
“iyaa Buk, Lya janji bakalan bikin Ibuk bangga dan pakai hijab mulai dari hari ini sini Ibu aku pakai jilbabnya” kataku sambil memakai kerudung yang ibu berikan padaku.
“kamu terlihat lebih cantik dengan jilbab ini Nak..” kata Ibu merayuku.
“nak siapa dulu ? Ibukk .. ”kataku bersemangat
Semangatku makin membara disetiap harinya, persiapan ujian makin matang. Bismillah ini awal dari kesuksesanku, sepulang sekolah aku selalu dibantu oleh Ibu untuk belajar berjalan tanpa tongkat di pinggir pantai. Sesekali aku terjatuh karena kaki belum kuat untuk menopang tubuh. Tapi itu tak menjadikan alasan bagiku untuk berhenti belajar berjalan kembali.  Karena aku yakin usaha tidak akan menghianati hasil.
Ini adalah hari pertama aku ujian, aku meminta restu kepada Ibuku agar dimudahkan pada saat aku mengerjakan soal-soal disekolah nanti. Alhasil setelah pengumuman kelulusan, aku lulus dengan nilai terbaik Alhamdulillah puji syukur kepada Allah, selain itu aku juga lolos di perguruan tinggi dengan beasiswa. Tak tanggung-tanggung kebahagiaanku hari itu di sekolah tanpa aku sadari aku bisa melompat dengan kedua kakiku yang semula masih sulit untuk berjalan. Masyaallah, Maha Suci Allah langsung aku sujud syukur tanpa hiraukan teman-teman disekitarku. Tak terasa air mata menetes dipipiku. Ini air mata bahagia, tak sabar aku ingin segera pulang dan memberikan kabar bahagia ini kepada Ibuku.
Sampai dirumah aku berlari menghampiri Ibuku yang sedang berada diteras rumah. Ibu melihatku dari arah kejauhan dengan ekspresi heran dan tercengang karena aku telah dapat berjalan dan berlari.
“Ibu, aku lulus Bu, aku lolos kuliah gratis dan, kakiku juga sudah sembuh Bu..” kataku pada Ibuku
“Alhamdulillah Nakk, rejekimu memang besar sekali. Ibu bangga padamu Nak” jawab ibuku dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap kepalaku lalu memelukku.
“Lya jadi kuliah kan Bukk ? Lya janji ga bakal kecewain Ibuk dan pasti Lya bakal bikin Ibuk bangga dan kerudung ini akan tetap menemani Lya dalam keadaan apapun ” ujarku semangat meyakinkan Ibu.
Ibuku mengangguk dan tersenyum.

*dua bulan kemudian*
Hari pertama kuliah, aku merasakan hal yang beda dengan masa SMA dulu, baik dari teman dan lingkungannya. Tak jauh dari pandangan mata aku melihat seorang laki-laki yang wajahnya tak asing bagiku. Wajah samar-samar mirip Kak Aldy yang membantuku di pantai sebelum aku lumpuh 4 bulan yang lalu. Tak lama lelaki itu juga menatapku dan ternyata dia mendekat padaku dan menyapaku.
 “Assalamualaikum, Lya ya ?” Tanya dia tanpa basa basi.  “loh iya benar, siapa ya ?” tanyaku kaget. “masih inget aku gak ?” kata dia menggodaku. “Kak Aldy ? “ dia mengangguk. “sudah aku duga, ternyata benar Kak Aldy dan Kakak kuliah disini juga ?” tanyaku penasaran. “Iya dek, aku kulih disini, gak nyangka kita satu kampus ternyata. “gimana kaki kamu yang kena karang tempo lalu?” Tanya kak Aldy. Langsung saja aku cerita bagaimana keadaanku waktu itu kepada Kak Aldy.
Banyak hal yang aku ceritakan padanya semenjak kita terakhir ketemu hingga hari ini. Keberadaan Kak Aldy di kampus memberikan warna tersendiri di keseharian dunia kampusku. Kebaikan hati dan ketulusannya padaku membuat aku merasa nyaman saat aku bersamanya. Hingga akhirnya Kak Aldy lulus kuliah dan sukses bekerja di salah satu perusahaan swasta. Beberapa tahun kemudian, Kak Aldy melamarku setelah aku wisuda. Sapu tangan milik Kak Aldy masih aku simpan rapi sebagai barang pertama yang dia berikan padaku.  
            Hidup memang sulit jika hanya diangan-angan saja. Jalani dengan ikhlas dan penuh semangat. Karena Yang Maha Mengetahui takkan membiarkan hambanya kehilangan kebahagiannya.

*SELESAI*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar